MENGHITUNG POTENSI PENERIMAAN RETRIBUSI PASAR DI KABUPATEN LANDAK TAHUN 2000 – 2002
BAB I
PENGANTAR
1.1 Latar Belakang
Lima tahun krisis ekonomi telah melanda Indonesia dan menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap kinerja perekonomian nasional maupun daerah. Secara langsung, hal ini berpengaruh pada kondisi keuangan negara dan daerah. Dari sudut pandang keuangan daerah, krisis multidimensial ini dapat menimbulkan penurunan kemampuan membayar (ability to pay) para wajib pajak dan wajib retribusi. Akibatnya, terjadi penurunan penerimaan negara dan daerah, khususnya yang berasal dari penerimaan pajak dan retribusi. Selain pengaruh krisis, kualitas sumber daya manusia (SDM) dan batasan legal formal seringkali menjadi
ANALISIS TINGKAT KAPITALISASI PROPERTI PERTOKOAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI DAERAH KOTA MATARAM
BAB I
PENGANTAR
1.1 Latar Belakang
Terjadinya krisis ekonomi sejak akhir tahun 1997 menyebabkan sektor riil menjadi macet, pasar modal kolap dan perbankan nasional mengalami permasalahan yang serius. Usaha yang dilakukan untuk memperbaiki keadaan krisis berdampak pula terhadap sektor properti. Subsektor properti yang tetap mengalami peningkatan permintaan adalah subsektor properti pertokoan (PropertiIndonesia, 2002:56).
Investasi dalam real estate merupakan produk dari paham kapitalistik dan hasil dari revolusi industri. Seiring dengan
PERTUMBUHAN EKONOMI DAN DISPARITAS REGIONAL DI JAWA TENGAH, 1983-2000
BAB I
PENGANTAR
1.1 Latar Belakang
Pembangunan ekonomi didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan kenaikan pendapatan riil per kapita penduduk suatu negara dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan sistem kelembagaan. Dengan demikian pembangunan ekonomi mempunyai pengertian :
- suatu proses yang berarti perubahan yang terjadi terus-menerus;
- usaha untuk menaikkan pendapatan per kapita;
- perbaikan sistem kelembagaan di segala bidang (misalnya ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya). Sistem kelembagaan ini bisa ditinjau dari dua
KONTRIBUSI DAN DAYA SAING INDUSTRI PENGOLAHAN NON MIGAS TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN BARAT
BAB I
PENGANTAR
1.1 Latar Belakang
Sebagai bagian dari pembangunan nasional, pembangunan daerah merupakan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah dengan memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimiliki di daerah, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Upaya tersebut dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan kemampuan daerah sendiri dengan memperhatikan kondisi yang ada, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemampuan menjawab tantangan yang timbul dari perkembangan di daerah, nasional bahkan internasional.
Dalam mencapai tujuan
PENGARUH PDRB RIIL, TINGKAT SUKU BUNGA RIIL, DAN INFRASTRUKTUR JALAN TERHADAP INVESTASI DOMESTIK DI PROPINSI BENGKULU
BAB I
PENGANTAR
1.1 Latar Belakang
Pada umumnya tinjauan terhadap perekonomian di suatu daerah atau negara secara makro dilakukan dengan melihat hubungan kausal berbagai variabel ekonomi agregatif seperti pertumbuhan ekonomi, pendapatan, tingkat suku bunga, investasi, dan lain-lain. Hubungan kausal atau disebut juga hubungan sebab akibat diperoleh dari kenyataan bahwa hubungan antara variabel-variabel ekonomi memiliki sifat reversible, dalam arti bahwa meningkatnya variabel A bertendensi mengakibatkan meningkatnya variabel B, atau sebaliknya, meningkatnya variabel A justru mengakibatkan menurunnya variabel B
EVALUASI SISA LEBIH PERHITUNGAN ANGGARAN PADA PERHITUNGAN APBD KABUPATEN BANTAENG SULAWESI SELATAN TAHUN ANGGARAN 1997/1998-2001
I. PENGANTAR
1.1 Latar Belakang
Sejalan dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, peranan Pemerintah terutama pemerintah daerah dalam era reformasi dan otonomi ini menjadi semakin penting. Otonomi yang dilaksanakan akan berdampak pada semakin besarnya wewenang dan tanggung jawab yang diberikan kepada daerah. Salah satu wewenang dan tanggung jawab tersebut adalah dalam mengelola pembangunan dan keuangan di daerahnya masing-masing.
Dengan wewenang dan tanggung jawab demikian, maka pemerintah daerah semakin
PENGARUH PENYERTAAN MODAL PEMERINTAH DAERAH TERHADAP LABA PT BANK PEMBANGUNAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN
BAB I
PENGANTAR
1.1 Latar Belakang
Pembangunan dalam tiga dasawarsa di negara sedang berkembang menunjukkan bahwa yang terjadi adalah rakyat dilapisan bawah tidak senantiasa dapat menikmati cucuran hasil pembangunan yang diharapkan, bahkan dibanyak negara kesenjangan sosial ekonomi makin melebar. Kenyataan ini, membuktikan bahwa strategi pembangunan yang terlalu “GNP-oriented” tidak memberikan pemecahan mengenai masalah kemiskinan (keterbelakangan). Todaro (1997 :14) menyatakan bahwa tujuan utama dari usaha-usaha pembangunan ekonomi selain upaya menciptakan pertumbuhan yang setinggi-tingginya,
Strategi Pengelolaan BUMD Sumber PAD di Era Otonomi dengan studi kasus terhadap PDAM Tirta Dharma Kota Bengkulu
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan daerah pada dasarnya adalah upaya untuk : (a) mengembangkan kemampuan ekonomi daerah untuk menciptakan kesejahteraan dan memperbaiki kehidupan material secara adil dan merata; (b) meningkatkan kondisi kesehatan, pendidikan, perumahan, dan kesempatan kerja; (c) mendorong penegakan hak-hak asasi manusia, kebebasan politik dan demokrasi; (d) mengembangkan peradaban dan (e) meningkatkan kesadaran perlunya pembangunan berkelanjutan (Sofian : 2001). Melihat pentingnya pembangunan daerah bagi pembangunan yang berkelanjutan, UU No. 22 Tahun 1999, sebagaimana tertulis di dalam konsiderannya memandang perlu menyelenggarakan otonomi daerah
POTENSI PENERIMAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERDESAAN DAN PERKOTAAN DI KABUPATEN MUNA
BAB I
PENGANTAR
1.1 Latar Belakang
Dalam Undang-undang Dasar 1945 pada pasal 18 merupakan dasar pelaksanaan otonomi daerah dengan ditindaklanjuti Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Nomor XV/MPR/1998 tentang penyelenggaraan otonomi daerah, dimaksudkan bahwa penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang lebih luas, nyata dan bertanggungjawab kepada daerah secara profesional, yang diwujudkan dengan penjabaran pembangian dan pemanfaatan sumber daya masyarakat yang adil serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. Di samping itu penyelenggaraan otonomi daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip
KEBUTUHAN INVESTASI DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN BENGKULU SELATAN
BAB I
PENGANTAR
1.1 Latar Belakang
Pembangunan ekonomi daerah merupakan salah satu dari bagian pembangunan nasional yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menurut Arsyad (1999:108) bahwa pembangunan ekonomi adalah suatu proses di mana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber daya-sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta. Pola kemitraan tersebut diharapkan dapat menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut.
