HUBUNGAN KEHIDUPAN KEBERAGAMAAN ORANG TUA TERHADAP MOTIVASI BELAJAR AGAMA ISLAM SISWA
BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang MasalahAda fenomena baru yang terjadi dalam realitas masyarakat yangdiekspos secara luas di media masa. Menariknya fenomena ini terkait eratdengan kekerasan dalam orang tua yang menghiasi berbagai program televisidengan berbagai macam variasinya. Ini adalah sebuah realitas yang dinilaioleh Haidar Nasir sebagai tipologi masyarakat yang sakit1 dan terperangkapironi atau bisa disebut sebagai masyarakat yang liar.2Akhir-akhir ini memang tindakan kekerasan di lingkungan orang tuasemakin meningkat. Kekerasan yang berkembang antara lain dalam bentukpenganiayaan, perkosaan sampai ke tingkat pembunuhan. Kecenderunganbaru yang relatife menonjol dari tindakan kekerasan dalam orang tua tersebutterutama pada aspek kualitas. Hal yang memprihatinkan ialah bagaimanakekerasan yang sedemikian sadis dapat terjadi di lingkungan anggota orangtua yang notebene diikat oleh pertalian sedarah atau sekerabat. Kita tidakhabis mengerti misalnya, bagaimana seorang ayah dapat memperkosa anakkandungnya sendiri, dan juga bagaimana bisa terjadi seorang suamimembunuh istrinya secara amat tidak manusiawi dan tindakan pembunuhanyang mengerikan lainnya, serta bagaimana seorang ibu atau bapak yangseharusnya merawat darah dagingnya sendiri sampai hati membunuh anaknya.Seorang nenek membunuh cucunya, istri membunuh suaminya, anakmembunuh orang tuanya dan sederet kekerasan mulai yang berbentuk1 Haidar Nasir, Agama dan Krisis Kemanusiaan Moder, (Yogyakarta : PustakaPelajar,1997), hlm. 112 Masyarakat yang liar adalah masyarakat yang akrab dengan pola-pola destruktif danamoral. Lebih lanjut lihat Sumardi dan al-Makin, “Terpaksa Berbuat Kekerasan”, Makalahdipresentasikan dalam diskusi “Terorisme dan Fundamentalisme Agama-agama”, yangdiselenggarakan oleh Lingkar Masyarakat Berdaya, PMII di Semarang, 27 April 2002. Lihat jugadalam Abdul Munir Mulkhan, Teologi Kebudayaan dan Demokrasi Modernitas, (Yogyakarta :Pustaka Pelajar, 1995), hlm. 1192penganiayaan, perkosaan, pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orangterdekat di lingkungan orang tua.Gejala atau kenyataan yang memprihatinkan ini sungguh merupakanpotret buram dalam kehidupan masyarakat. Kehidupan manusia layaknyatengah berada pada situasi, “zaman edan”. Realitas menunjukkan bahwa dulugejala kekerasan semacam itu tidak atau jarang terjadi. Kini seperti telahmenjadi bagian dari perjalanan masyarakat Indonesia. Kenapa semua itu bisaterjadi? Kenapa orang-orang yang terikat dalam pertalian darah atau sekerabatdalam orang tua sampai hati mengorbankan saudaranya yang terdekat? Sudahmulai rusakkah bangunan kehidupan sebagian orang tua-orang tua di dalammasyarakat kita? Soal ini tampaknya perlu menjadi bahan renungan dankeprihatinan semua pihak, sebab bagaimanapun orang tua merupakan inti darikehidupan suatu masyarakat jika bangunan inti rusak, maka rusak pulalahbangunan yang lebih besar yaitu masyarakat.Salah satu hal penting yang memicu deskripsi di atas adalah kurangtertanamnya nilai-nilai keberagamaan dalam orang tua.3 Nilai-nilaikeberagamaan di satu sisi, dan peran orang tua di sisi lain dewasa ini sudahmenunjukkan minimalis atau bisa dikaitkan tersaingi atau bahkan telahtergantikan dengan media, yang seharusnya membutuhkan arahan danbimbingan oleh orang tua dalam merespon perilaku anak terhadap media.Dampak negatif media dan implikasinya terhadap perkembangan anakmendapat perhatian menarik dari Sarlito Wirawan Sarwono denganmengatakan;“Dampak negatif media massa sudah menjadi kecemasan para orang tua sejakdahulu kala ketika saya masih anak-anak tahun 1950-1960 an, misalnya ibusaya, seperti juga ibu-ibu yang lain sangat marah apabila saya membacakomik. Menurut beliau komik itu tidak baik untuk anak-anak. Membuat anakanakmalas belajar dan membuat anak-anak menjadi bodoh. Padahal komikkomikpada massa itu hanya berkisah tentang Mahabarata atau Ramayanakarya RA. Kosasih atau cerita-cerita lain sejenis itu. Sangat berbeda denganyang ditawarkan oleh media masa zaman sekarang (cetak maupun elektronik)3 Ahmad Syafi’i Ma’arif, Membumikan Islam, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1995), hlm.753yang menayangkan kekerasan, seks, dan perselingkuhan. Tidak mengherankanjika orang tua zaman sekarang lebih ketat lagi mengawasi anak-anaknyadalam menggunakan media massa.4Kecemasan Sarlito Wirawan yang mengarah pada pengawasanproporsional dari orang tua terhadap anak ini menjadi sia-sia dikarenakan duahal yaitu pertama jenis dan teknologi media massa berkembang begitucepatnya, sehingga tidak mungkin dapat dikendalikan oleh orang tua bahkanoleh pemerintah sekalipun. Kedua; anak tetaplah anak, apabila fisik merekatelah memasuki remaja, makin dilarang, semakin dikekang makin kesempatanuntuk melakukan apa saja yang dilarang orang tuanya. Dalam posisi sepertiinilah diperlukan orang tua yang tangguh baik dalam religiusitas maupunaspek lain untuk dapat mendidik dan mengarahkan anak secara baik danbenar.Dalam sejarah dapat dilihat bahwa dengan nilai-nilai keberagamaanorang tua yang tangguh akan berakibat positif pada perkembangan anak,5sebagai contoh; pertama, fenomena Sunan Ampel, Sunan Gresik dan SunanMajagung. Sunan Ampel adalah julukan dari Raden Rahmad, putra MaulanaMalik Ibrahim, ibunya adalah putri kedua Baginda Kiyan. Adapun kakaksulung ibunya adalah Dewi Sasmitoputri permaisuri Prabu Kertawijaya atauBrawijaya I (1447-1451). Menurut cerita, Raden Rahmad bersama kakaknyaRaden Santri Ali atau Sunan Gresik, Raden Alim Abu Husaysah atau SunanMajagung, anak paman mereka Raden Narpataruna adik bungsu dari ibumereka. Setelah dewasa dan cukup mendapat didikan agama dari MaulanaMalik Ibrahim (ayah serta paman mereka) ketiganya mengunjungi “uak”mereka di Majapahit, tetapi karena sesuatu hal mereka tidak kembali kekerajaan Campa, tetapi oleh anugrah sang Prabu Majapahit ketiganya diberitanah “prepenah”, supaya mejadi imam di daerah masing-masing. Raden4 Sarlito Wirawan Sarwono, “Pilih Mana; Orang Tua atau Media Massa?”, dimuat dalamSindunata (editor) Membuka Masa Depan Anak-anak Kita; Mencari Kurikulum Pendidikan AbadXXI, (Yogyakarta : Kanisius, 2000), hlm. 935 Lihat dalam Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa; Telaah Atas Metode DakwahWalisongo, (Bandung : Mizan, 1996), hlm. 26-30
- Login to post comments

