PENGARUH RIGHT ISSUE TERHADAP RETURN SAHAM DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM PERUSAHAAN DI BURSA EFEK JAKARTA ( Periode Tahun 2000 ? 2004 )
Submitted by superadmin on Thu, 12/25/2008 - 20:15
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian empiris yang menganalisa right issue sebagai peristiwa yang mempengaruhi return saham dan volume perdagangan saham. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji apakah right issue sebagai suatu sinyal informasi mempengaruhi perubahan return saham dan volume perdagangan saham perusahaan di BEJ. Variabel yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu Abnormal return dan Trading Volume Activity (TVA). Metode analisa data yang digunakan adalah metode uji beda dua rata-rata atau T-test, paired two sample.
Hasil Penelitian terhadap 41 perusahaan yang melakukan right issue membuktikan bahwa peristiwa right issue tidak berpengaruh terhadap preferensi investor dalam menentukan investasi. .
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan harga saham dan volume perdagangan di pasar modal merupakan suatu indikator penting untuk mempelajari tingkah laku pasar, yaitu investor. Dalam menentukan apakah investor akan melakukan transaksi di pasar modal, biasanya ia akan mendasarkan keputusannya pada berbagai informasi yang dimilikinya, baik informasi yang tersedia di publik maupun informasi pribadi. Informasi tersebut akan memiliki makna atau nilai bagi investor jika keberadaan informasi tersebut menyebabkan melakukan transaksi di pasar modal, dimana transaksi ini tercermin melalui perubahan harga dan volume perdagangan saham. Dengan demikian, seberapa jauh relevansi atau kegunaan suatu informasi dapat disimpulkan dengan mempelajari kaitan antara pergerakan harga saham dan volume perdagangan di pasar modal dengan keberadaan informasi tersebut.
Pengumuman perusahaan yang melakukan right issue, secara teoritis dan empiris telah menyebabkan harga saham bereaksi secara negatif, dan ini adalah kejadian yang diakibatkan oleh systematic risk. Bebarapa temuan empiris tersebut diantaranya adalah : Scholes (1972), Marsulis (1979), Asquith dan Mullins (1986), Myers dan Maljuf (1984), Barclay dan Litzenberger (1988), Mikkelson and partch (1986) Kothare (1997) seperti dikutip di Arif Budiarto dan Zaki Baridwan (1999). Temuan empiris tersebut menunjukkan bahwa nilai pasar perusahaan turun sampai 3% pada saat pengumuman penambahan saham baru.
Beberapa temuan empiris tersebut diatas konsisten dengan model signalling Theory yang mengasumsikan adanya informasi asimetri diantara berbagai partisipan di pasar modal. Modal tersebut menyatakan bahwa pasar akan bereaksi secara negatif karena adanya pengumuman penambahan saham baru yang mengindikasikan adanya informasi yang tidak menguntungkan (badnews) tentang kondisi laba di masa yang akan datang, khususnya jika ada dana dari right issue yang akan digunakan untuk tujuan perluasan investasi yang mempunyai NPV sama dengan 0 atau negatif.
Harga saham setelah right issue secara teoritis akan mengalami penurunan, wajar saja karena harga pelaksanaan right issue selalu lebih rendah dari harga pasar. Myers dan maljuf (1984) memprediksi bahwa harga saham akan direspon secara tidak menguntungkan oleh pasar terhadap adanya informasi pengumuman right issue, karena pasar mengasumsikan bahwa manajer akan mendapatkan insentif untuk menerbitkan tambahan saham baru yang mereka percaya overvalue tetapi penurunan harga dengan adanya pengumuman right issue berdasarkan bukti-bukti empiris tersebut diatas tidak signifikan. Penurunan harga saham akan berkisar antara 2-3% dan setelah itu terjadi koreksi kenaikan harga saham kembali pada posisi awal sebelum adanya pengumuman, seperti dikutip di Arif Budiarto dan Zaki B. (1999).
Kebijakan right issue merupakan biaya emiten untuk menghemat biaya emisi serta untuk menambah jumlah saham yang beredar. Jadi dengan adanya right issue, kapitalisasi pasar saham akan meningkat dalam presentasi yang lebih kecil dari pada presentasi jumlah lembar saham yang beredar. Umumnya diharapkan penambahan jumlah lembar saham yang beredar di pasar akan menambah frekuensi perdagangan saham tersebut atau dengan kata lain dapat meningkatkan tingkat likuiditas saham. Kothare (1997) menemukan bukti bahwa tingkat likuiditas akan meningkat secara signifikan setelah pengumuman saham baru. Peningkatan volume perdagangan tersebut ditemukan mempunyai korelasi dengan perubahan struktur kepemilikan saham, dimana right issue lebih diutamakan untuk tujuan konsentrasi kepemilikan dari pada perluasan kepemilikan, tetapi sheeh dkk (1997) menemukan bukti yang berbeda dengan temuan Kothare, yaitu bahwa tingkat likuiditas saham perusahaan yang diukur dengan jumlah volume perdagangan saham meningkat dari keadaan yang normal justru sebelum adanya pengumuman. Peningkatan volume perdagangan saham ini disebabkan oleh adanya aktivitas short selling yang dilakukan oleh spekulator, seperti dikutip di Arif Budiarto dan Zaki Baridwan (1999)
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah pengumuman right issue yang dipublikasikan akan mempengaruhi pengambilan keputusan investor. Ada tidaknya pengaruh akan dilihat dengan perubahan harga/return dan volume perdagangan saham di seputar tanggal pengumuman. Untuk mengetahui hal tersebut akan dilakukan pengujian dengan menggunakan metodologi studi peristiwa (event study). Study peristiwa merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman. Event study dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi (information content) dari suatu pengumuman dan dapat juga digunakan untuk menguji efesiensi pasar bentuk setengah kuat.
Pengujian kandungan informasi dimaksudkan untuk melihat reaksi pasar dari suatu pengumuman, jika pengumuman mengandung informasi, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Reaksi pasar ditunjukan dengan adanya perubahan harga dari sekuritas bersangkutan. Reaksi ini biasanya diukur dengan menggunakan return sebagai nilai perubahan harga atau dengan menggunakan abnormal return. Jika digunakan abnormal return, maka dikatakan bahwa suatu pengumuman yang mengandung kandungan informasi akan memberikan abnormal return kepada pasar. Sebaliknya suatu pengumuman yang tidak mengandung informasi tidak memberikan abnormal return kepada pasar. Jika pengujian melibatkan kecepatan reaksi pasar untuk menyerap informasi yang dipublikasikan, maka pengujian ini merupakan pengujian efesiensi pasar bentuk setengah kuat.
Kebanyakan suatu peristiwa mengkaji peristiwa yang berkaitan dengan perusahaan seperti pembagian deviden, stock split, perubahan kepemilikan, perubahan kebijakan pemerintah, dan sebagainya. Mengingat peristiwa tersebut merupakan salah satu informasi yang mungkin dibutuhkan oleh investor sebagai dasar untuk membuat keputusan investasi, maka penelitian ini akan menguji apakah pengumuman right issue mempunyai kandungan informasi yang cukup untuk membuat pasar bereaksi terhadap pengumuman tersebut. Reaksi pasar tersebut akan ditunjukan dengan adanya perubahan harga dari saham perusahaan yang melakukan pengumuman right issue. Reaksi ini kemudian akan diukur dengan menggunakan return sebagai nilai perubahan harga dan abnormal return yang merupakan selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasi.
Berangkat dari latar belakang ini maka penulis tertarik untuk menganalisis beberapa informasi yang berhubungan dengan right issue dapat mempengaruhi harga dan volume perdagangan dari saham – saham emiten yang memberikan right issue dan diterjemahkan kedalam karya tulis yang berjudul “PENGARUH RIGHT ISSUE TERHADAP RETURN SAHAM DAN VOLUME PERDAGANGAN SAHAM PERUSAHAAN DI BURSA EFEK JAKARTA (Periode Tahun 2000 – 2004) “
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas, maka dapat ditentukan pokok permasalahan dalam penelitian ini, yaitu :
Apakah pengumuman right issue sebagai suatu sinyal informasi mempengaruhi return saham dan volume perdagangan saham perusahaan di Bursa Efek Jakarta.
»
- Login to post comments

