PENGARUH SIKAP DEMOKRATIS ORANG TUA DALAM KELUARGA TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL ANAK
Submitted by superadmin on Wed, 12/31/2008 - 13:14
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Lantar Belakang Masalah
Pada hakikatnya manusia menginginkan keberhasilan dan kelayakan hidup. Untuk menjadi orang yang berhasil diperlukan suatu kecerdasan tertentu di antaranya kecerdasan akal (Intelligence Quotion). Akan tetapi dengan kecerdasan akal (IQ) saja tidak dapat menjamin keberhasilan hidup seseorang. Tidaklah benar asumsi masyarakat selama ini bahwa orang yang mempunyai IQ tinggi dikatakan cerdas dan orang yang memiliki IQ rendah tentu bodoh. Para psikolog sepakat bahwa IQ hanya menyumbangkan kira-kira dua puluh persen sebagai faktor dalam menentukan keberhasilan delapan puluh persen berasal dari faktor lain.1 Daniel Goleman, salah seorang Profesor dari Universitas Harvard, dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence, menjelaskan bahwa ada faktor lain selain faktor IQ yang ikut menentukan tingkat kesuksesan seseorang yaitu faktor kecerdasan emosional (Emotional Intelligence). Kecerdasan emosi menunjuk pada suatu kemampuan untuk mengatur dan mengelola dorongan-dorongan emosi yang terdapat dalam diri individu. Emosi dapat dikelompokkan pada rasa: amarah, kesedihan, takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel dan malu. Agar dorongan-dorongan tersebut dapat disalurkan secara benar dan tepat baik pada diri sendiri maupun bagi sosialnya, ada lima dimensi yang dapat mencerminkan tingkat kecerdasan emosi yang dapat dimiliki oleh seseorang. Secara garis besar dimensi-dimensi kecerdasan emosi tersebut adalah, pertama: kemampuan mengenali emosi diri, kedua: kemampuan mengelola emosi diri, ketiga: kemampuan memotivasi diri ketika menghadapi kegagalan atau rintangan
1
Aparna Chattopadhyay, Tes Emosi Anda, terj., HTA. Darwin Rasyid, (Tanggerang: Gaya Media Pratama, 2004), hlm. 5
1
dalam mencapai keinginan, keempat: kemampuan mengenai emosi orang lain, dan kelima: kemampuan membina hubungan dengan sosialnya.2
Kelima dimensi itu saling terkait, sehingga kecerdasan seseorang pada satu dimensi juga mencerminkan dan mempengaruhi dimensi-dimensi lain. Berdasarkan pendapat Goleman di atas, penulis menggaris bawahi bahwa keberhasilan seseorang saat ini cenderung diraih oleh orang yang memiliki Emosional Intelligence tinggi, karena orang semacam ini memiliki daya terima tinggi dalam memasuki kehidupan masyarakat, sehingga ia lebih kohesif dalam kehidupan di masyarakat.
Hal senada juga dikatakan oleh Syamsu Yusuf bahwa berdasarkan pengamatan yang dilakukan para ahli, kegagalan orang dalam meraih kesusksesan bukan disebabkan oleh faktor kognitif yang rendah melainkan dari pengaruh emosionalnya yang kurang mampu untuk menghadapi dunia luar yang sangat kompleks. Kehidupan yang sangat kompleks memberikan dampak buruk bagi perkembangan kecerdasan emosional individu.3
Kecerdasan emosional penting untuk dikembangkan sejak anak masih usia dini. Peran orang tua sangat diharapkan karena orang tualah sebagai lingkungan pertama dan lebih besar pengaruhnya dalam pembentukan emosi anak. Hendaknya orang tua mampu membimbing anak agar anak mampu mengelola emosinya sendiri. Dan diharapkan anak tidak bersifat: pemarah, putus asa, atau angkuh sehingga prestasi yang telah dimiliki anak akan bermanfaat bagi dirinya.
Pengembangan emosi tersebut ditentukan oleh dua faktor, yakni faktor pematangan dan faktor belajar.4 Faktor pematangan dipengaruhi oleh perkembangan intelektual yang menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti, memperhatikan rangsangan dalam waktu yang lama dan memutuskan ketegangan emosi
Daniel Goleman, Emotional Intelligence, Kecerdasan Emosional, terj., T. Hermaya, (Jakarta: Gramedia,1999), hlm. 58-59.
3
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), Cet. 3, hlm. 113.
4
Elizabeth B. Hurlock, Child Development, Perkembangan Anak, Jilid I, (Jakarta: Erlangga, 1995), hlm. 213.
pada suatu obyek, demikian juga kemampuan mengingat dan menduga mempengaruhi proses reaksi emosional. Sedangkan peranan belajar dipengaruhi oleh metode yang digunakan. Terdapat lima metode yang mempengaruhi perkembangan emosi yakni belajar secara coba dan ralat, belajar dengan cara meniru, belajar dengan mempersamakan diri, belajar melalui pengkondisian, dan belajar dengan sistem pelatihan.
Kedua faktor tersebut (pematangan dan belajar) tidak lepas dari dukungan tempat seseorang tumbuh; baik lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, atau lingkungan masyarakat. Di antara tiga lingkungan tersebut yang paling dominan pengaruhnya ialah lingkungan keluarga terutama ibu dan bapak (orang tua).
Orang tua yang selalu menyakinkan bahwa pengalaman hidup mereka selama ini adalah pedoman paling tepat bagi anak-anaknya dalam menempuh bahtera kehidupan, dan memaksakan penerapan pengalaman itu dalam kehidupan anak-anaknya akan mengakibatkan ketidak harmonisan dalam hubungan keluarga. Keotoriteran orang tua akan menimbulkan apa yang disebut dengan Generation Gap.
Akibatnya, tidak heran kalau banyak anak-anak yang keluar dari keluarga hampir tidak memiliki karakter. Banyak di antara anak-anak yang alim dan bijak di rumah, tetapi nakal di sekolah, terlibat dalam tawuran, penggunaan obat-obat terlarang dan bentuk-bentuk penyimpangan lainnya. Inilah anak-anak yang bukan hanya tidak memiliki kebajikan (righteousness) dan inner beauty dalam karakternya, tetapi malah mengalami kepribadian terbelah (split personality).
Berkaitan dengan pernyataan di atas, Sutari Imam Barnadib berpendapat bahwa mendidik anak yang baik tidak karena paksaan, tetapi karena kesadaran. Biasanya anak meniru apa yang dilihatnya dan kurang senang terhadap perintah atau larangan. Orang tua harus obyektif, tidak boleh terlalu melindungi atau membiarkannya.5
5 Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, (Yogyakarta: FIP IKIP, 1984) hlm. 122.
Orang tua harus menyadari bahwa anak harus diberi peluang untuk melakukan eksplorasi kreatif atas ketertarikan individu dan bakat mereka, sambil belajar ketrampilan dan konsep yang dihargai melalui ragam potensi kecerdasan yang dimiliki. Tidak semua siswa menunjukkan “profil kecerdasan” maupun ketertarikan yang sama.
»
- Login to post comments

