TINGKAT EFISIENSI INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN, TEMBAKAU, TEKSTIL DAN KULIT DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2000-2004
Submitted by superadmin on Fri, 12/26/2008 - 09:24
ABSTRAK
Untuk dapat bertahan dan bersaing dengan Industri-industri yang lain maka pengusaha harus dapat mengetahui seberapa besar tingkat efisiensi dan cara mengatasinya jika terjadi inefisiensi. Pada skripsi ini akan dibahas mengenai tingkat efisiensi industri makanan dan minuman, tembakau, tekstil dan kulit. Karena industri-industri tersebut ternyata disertai dengan berbagai masalah yang ada yaitu perbedaan pada tingkat efisiensi pada industri-industri tersebut.
Penelitian ini menggunakan variabel jumlah biaya industri, jumlah tenaga kerja, nilai barang yang dihasilkan, pendapatan jasa industri dan pendapatan lainnya. Adapun alat analisis yang digunakan adalah Data Envelopment Analysis (DEA). Dari analisis yang dilakukan dapat diambil kesimpulan dengan analisis DEA bahwa sebagian besar industri-industri di Daerah Istimewa Ygyakarta mempunyai tingkat efisiensi yang berbeda. Dengan menggunakan DEA dapat diketahui input mana yang harus diminimumkan dan output yang mana yang harus ditingkatkan pada industri makanan dan minuman, tembakau, tekstil dan kulit.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Di negara berkembang khususnya Indonesia pada saat ini sedang dilaksanakan pembangunan disegala bidang, tetapi masih memprioritaskan pembangunan nasional yang mengarah pada pembangunan ekonomi dalam rangka meningkatkan taraf hidup warga negaranya. Pembangunan di bidang ekonomi merupakan penggerak utama pembangunan, hal ini sesuai dengan Garis – Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang menitik beratkan pada bidang ekonomi. Tujuan pembangunan ekonomi disamping untuk meningkatkan pendapatan nasional juga untuk meningkatkan produktivitas. Pembangunan ekonomi dapat dikatakan berhasil jika dapat mengurangi pengangguran, mengurangi kemiskinan, meningkatkan taraf hidup masyarakat serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka pemerintah perlu bertumpu pada trilogi pembangunan, yaitu (1) pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju tercapainya kemakmuran yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (2) pertumbuhan ekonomi yang tinggi (3) stabilitas nasional yang sehat dan dinamis guna mencapai sasaran pembangunan.
Indonesia sebagai negara berkembang sedang menyiapkan sektor industri agar mampu menjadi motor penggerak kemajuan di sektor-sektor lainnya. Sektor industri diharapkan bisa menjadi sektor yang memimpin (the leading sector) sektor-sektor lain dalam sebuah perekonomian menuju kemajuan. Sektor industri juga dianggap sebagai cara terbaik untuk menciptakan lapangan pekerjaan, yang pada akhirnya dapat memperluas daya serap tenaga kerja.
Jumlah penduduk yang besar seperti Indonesia merupakan pasar potensial yang menjadi sumber permintaan akan berbagai macam barang dan jasa yang selanjutnya dapat menggerakkan berbagai macam kegiatan ekonomi sehingga menciptakan skala ekonomis (economics of scale) produksi yang dapat menguntungkan semua pihak karena dapat menurunkan biaya produksi dan menciptakan penawaran tenaga kerja yang murah dalam jumlah yang memadai sehingga pada gilirannya akan merangsang tingkat output atau produksi agregat yang lebih tinggi lagi.
Sumber daya manusia yang ada juga dapat menciptakan suatu perubahan yang positif. Tenaga kerja yang berkualitas dan memiliki kemampuan serta penguasaan ilmu pengetahuan akan dapat mendorong proses pembangunan. Tenaga kerja seperti disebut diatas mempunyai keterkaitan dengan tingkat produktivitas dan efisiensi.
Sumbangan sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Meskipun sektor industri bukan merupakan sektor yang dominan tetapi sektor industri memiliki peran yang cukup besar untuk mewujudkan tercapainya tujuan-tujuan pembangunan daerah. Untuk lebih jelasnya melihat tabel mengenai PDRB atas dasar harga konstan 2000 di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2000-2004 dapat melihat tabel dibawah ini: (tabel 1.1)
TABEL 1.1.
PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga
Konstan 2000 di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2000-2004
(dalam jutaan Rp)
|
Lapangan Usaha
|
Tahun
Persentase
|
|||||
|
2002
|
2003
|
2004
|
2002
|
2003
|
2004
|
|
|
Pertanian
|
2.936.467
|
2.947.346
|
3.054.432
|
19.99
|
19.19
|
18.91
|
|
Pertambangan dan Penggalian
|
118.319
|
119.433
|
120.441
|
0,81
|
0.78
|
0.75
|
|
Industri Pengolahan
|
2.261.886
|
2.325.236
|
2.394.337
|
15.40
|
15.14
|
14.83
|
|
Listrik, Gas, dan Air Bersih
|
128.931
|
135.379
|
144.845
|
0.88
|
0.88
|
0.90
|
|
Bangunan
|
1.053.019
|
1.178.024
|
1.284.471
|
7.17
|
7.67
|
7.95
|
|
Perdagangan, Hotel, dan Restoran
|
2.915.193
|
3.099.803
|
3.285.591
|
19.85
|
20.18
|
20.34
|
|
Pengangkutan dan Komunikasi
|
1.328.681
|
1.437.072
|
1.582.194
|
9.05
|
9.36
|
9.80
|
|
Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan
|
1.314.860
|
1.408.894
|
1.507.895
|
8.95
|
9.17
|
9.34
|
|
Jasa-jasa Lain
|
2.631.884
|
2.710.091
|
2.775.857
|
17.92
|
17.64
|
17.19
|
|
Total
|
14.689.240
|
15.361.277
|
16.150.064
|
100
|
100
|
100
|
Sumber: Badan Pusat Statistik Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 2004.
Dari tabel 1.1. di atas menunjukkan bahwa setiap sektor mempunyai kontribusi yang berbeda-beda terhadap PDRB. Dari sembilan sektor perekonomian yang ada tersebut sektor yang paling besar dalam menyumbang kontribusinya terhadap PDRB pada tahun 2004 secara urut adalah yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pertanian, sektor jasa-jasa lainnya, sektor industri pengolahan, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, sektor bangunan, sektor listrik, gas, dan air, dan sektor pertambangan dan penggaliaan.
Sektor industri pengolahan menempati urutan ke empat dalam menyumbang kontribusinya terhadap PDRB sebesar 2.394.337 atau 14.83 persen. Sektor industri pengolahan meskipun bukan merupakan sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB, tetapi nilai yang dihasilkan dari sektor industri pengolahan dalam kurun waktu tahun 2002-2004 selalu mengalami peningkatan.
Perdagangan bebas yang direncanakan pada tahun 2020 menjadi ancaman bagi industri-industri di Indonesia, terutama industri-industri yang memiliki tingkat efisiensi yang rendah. Menghadapi perdagangan bebas yang sudah dekat ini maka haruslah diketahui seberapa besar kemampuan untuk menghadapi perdagangan bebas tersebut agar mampu bersaing. Dalam perspektif seperti itu, kita harus mengetahui efisiensi produksi dalam setiap sektor industri.
Masalah tingkat efisiensi merupakan masalah yang sulit dipecahkan, hal ini disebabkan karena di Indonesia masih banyak permasalahan dan hambatan yang harus dihadapi dalam rangka meningkatkan efisiensi. Kekurangan modal pembangunan merupakan suatu masalah bagi setiap negara yang sedang memulai pembangunannya dan kekurangan modal dapat mengurangi tingkat efisiensi. Meningkatan output memerlukan modal yang sangat banyak, selain itu pemerintah juga harus memperluas ruang lingkup pembangunan, sistem pendidikan harus dikembangkan dan infra-struktur harus dibangun, pembangunan pabrik-pabrik baru harus diperbanyak, penyediaan mesin-mesin dan peralatan, serta bahan baku agar dapat meningkatkan tingkat output dimasa-masa mendatang.
Usaha lain yang dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan output adalah dengan cara pengembangan golongan pengusaha. Golongan pengusaha sangat penting dalam menentukan tercapainya perkembangan ekonomi, sebab para pengusaha dengan modal yang dimilikinya baik berasal dari pinjaman maupun dana sendiri dapat mengembangkan kegiatan perusahaan dan industri. Seperti kita ketahui bahwa perusahaan dan industri yang maju dapat memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja yang signifikan.
Sebagai daerah yang menjadi pusat kegiatan bagi wilayah sekitarnya tidaklah mengherankan bila di Daerah Istimewa Yogyakarta banyak tumbuh berkembang industri-industri berbagai skala. Keberadaan sektor industri di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah untuk mewujudkan tujuan-tujuan pembangunan daerah. Jumlah sektor industri pengolahan di Daerah Istimewa Yogyakarta dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Untuk lebih jelasnya melihat tabel mengenai banyaknya industri besar dan sedang di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2001-2004 dapat melihat tabel dibawah ini: (tabel 1.2.)
TABEL 1.2.
Banyaknya Industri Besar dan Sedang di Propinsi D.I Yogyakarta, Tahun 2001-2004 Menurut Golongan Pokok Industri
|
Perusahaan Industri Besar Dan Sedang
|
Tahun
|
|||
|
2001
|
2002
|
2003
|
2004
|
|
|
Makanan dan minuman
|
|
|
|
|
|
Tembakau
|
|
|
|
|
|
Tekstil
|
37
|
39
|
35
|
36
|
|
Pakaian jadi
|
34
|
30
|
28
|
30
|
|
Kulit dan barang dari kulit
|
25
|
26
|
31
|
28
|
|
Kayu, barang dari kayu (tidak termasuk furniture) dan barang anyaman
|
48
|
49
|
45
|
51
|
|
Penerbitan, percetakan dan reproduksi rekaman
|
23
|
23
|
24
|
24
|
|
Kimia dan barang-barang dari kimia
|
9
|
11
|
11
|
10
|
|
Karet dan barang dari karet
|
12
|
9
|
10
|
12
|
|
Barang galian bukan logam
|
59
|
54
|
50
|
51
|
|
Barang-barang dari logam kecuali mesin dan peralatannya
|
10
|
8
|
8
|
8
|
|
Mesin dan perlengkapannya
|
9
|
9
|
8
|
7
|
|
Mesin listrik lainnya dan perlengkapannya/alat angkutan selain kendaraan bermotor roda empat atau lebih
|
2
|
4
|
4
|
3
|
|
Furnitur dan pengolahan lainnya
|
76
|
84
|
99
|
101
|
|
Total
|
394
|
397
|
402
|
411
|
Sumber: Statistik IBS, Badan Pusat Statistik Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 2004
Pada tahun 2004 jumlah industri besar dan sedang di daerah Istimewa Yogyakarta tercatat sebanyak 411 perusahaan industri. Jumlah tersebut naik di bandingkan tahun-tahun sebelumnya dimana pada tahun 2003 tercatat 402 unit industri dan pada tahun 2002 tercatat sebanyak 397 perusahaan industri, sedangkan pada tahun 2001 tercatat sebanyak 394 perusahaan industri. Selama periode tahun 2001-2004, jumlah industri besar dan sedang mengalami peningkatan 1,06 persen per tahun. Dilihat dari jumlahnya antara tahun 2001-2004 industri furniture dan pengolahan lainnya menempati urutan pertama, kemudian diikuti oleh industri barang galian bukan logam. Sedangkan industri makanan dan minuman menempati urutan ketiga.
Kurun waktu tahun 2001-2004 jumlah industri makanan, minuman dan tembakau di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami fluktuatif. Pada tahun tercatat sebanyak 50 unit industri. Jumlah tersebut naik 1 unit industri dibanding tahun sebelumnya dimana pada tahun 2003 tercatat sebanyak 49 unit industri.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut diatas maka, penulis ingin mengetahui lebih dalam tentang tingkat efisiensi industri makanan, minuman dan tembakau di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sehingga penulis sangat tertarik untuk melakukan penelitian ini dalam bentuk skripsi dengan judul: ”TINGKAT EFISIENSI INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN, TEMBAKAU, TEKSTIL DAN KULIT DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2000-2004”
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, untuk itu diperlukan suatu perhitungan dan analisis pada perkembangan produktivitas dan tingkat efisiensi pada industri makanan,minuman dan tembakau, yang saling berkaitan. Maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
- Berapa tingkat efisiensi usaha Industri Makanan dan minuman, Tembakau, Tekstil dan Kulit di Daerah Istimewa Yogyakarta.
- Berapa besar pertumbuhan Industri Makanan dan minuman, Tembakau, Tekstil dan Kulit di masa yang akan datang di Daerah Istimewa Yogyakarta.
»
- Login to post comments

